Stop Bullying, Tingkatkan Kebersamaan


Stop Bullying, Tingkatkan Kebersamaan
Dewasa ini banyak ditemukan tingkah laku yang sangat tidak mendidik. Contohnya saja seperti bully yang dilakukan seseorang terhadap orang lain. Baik yang dilakukan karena ketidak sengajaan atau karena kebiasaan.

Tingkah laku bully yang biasa dianggap hanya candaan, ternyata memiliki dampak buruk. Terutama terhadap psikologisnya. Tak jarang zaman sekarang banyak anak tak lagi sering bergaul hanya karena takut dibully atau dianggap rendah dari yang lainnya.

Bullying berasal dari bahasa Inggris yaitu “bully” yang artinya menggertak atau menggangu. Mereka bisa mengganggu secara fisik atau emosional. Kasus bullying ini sebaiknya mulai menjadi salah satu pusat perhatian bagi para pendidik, maupun orangtua.

Karena masalah ini terus saja meningkat. kadar dan kasusnya dari tahun ke tahun. Bahkan pemerintah menilai tindak kekerasan atau bullying  sebagai suatu sikap yang telah keluar dari nilai-nilai kemanusiaan dan tujuan pendidikan.

Dalam pendidikan, tentu tingkah laku bullying dapat mengganggu motivasi belajar siswa, salah satu kutipan mengenai bullying secara verbal bisa digambarkan sebagai berikut,”Sticks and stones may break your bones but mean words can tear holes in your spirit” Yang artinya adalah “tongkat dan batu dapat mematahkan tulangmu, tapi ucapan yang jahat dapat menghancurkan semangatmu.”

Perilaku bullying dapat menghancurkan semangat dan motivasi siswa dan terutama menciptakan situasi yang tidak nyaman untuk belajar.  Karena itu perilaku bullying ini perlu mendapatkan pemahaman dan perhatian lebih lanjut.

Tindakan perilaku agresi yang menyenangkan pelaku untuk menyakiti korban itu dilakukan secara tidak seimbang dan dilakukan secara berulang-ulang sehingga menimbulkan rasa tertekan korban.

Riset membuktikan bahwa pelaku bullying memiliki citra diri yang relatif positif, sebagian besar populer. Mereka sering berada dalam kelompok dua atau tiga orang yang memberi dukungan dan sering bergabung ketika terjadi bullying.

Ketika seorang peneliti menanyakan 176 anak sekolah menengah atas usia 15 hingga 16 tahun mengenai pengalaman mereka yang berhubungan dengan bullying, baik sebagai penonton atau korban atau pelaku, 69% menyatakan bahwa pelaku adalah penyebab dari bullying. Pelaku melakukannya karena merasa tidak percaya diri dan melakukan bullying untuk meningkatkan kekuasaan, kepercayaan diri , status dan popularitas.

Ciri-ciri pelaku bullying antara lain; Sering bersikap agresif terhadap orang dewasa bahkan terhadap ortu dan guru, menguasai teman-temannya, menekan lainnya dan menunjukkan dirinya dengan kekuatan dan ancaman, cepat marah, impulsif, sulit diatur, kasar, dan hanya menunjukkan simpati yang sangat kecil kepada korban bully.

Seseorang bisa menjadi pelaku bullying karena; kemampuan adaptasi yang buruk, pemenuhan eksistensi diri yang kurang kurang baik, adanya pemenuhan kebutuhan yang tidak terpuaskan dalam kehidupannya, hubungan keluarga yang kurang harmonis, bahkan bisa jadi si pelaku ini juga merupakan korban bullying sebelumnya.

Secara umum, tingkah laku bullying ini berawal dari masalah yang dialami oleh pelaku. Kemampuan pemecahan masalah yang kurang bisa membuat anak mencari jalan keluar yang salah, termasuk dalam bentuk bullying ini.

Aksi bullying menyebabkan  seseorang  mejadi  terisolasi  dari  kelompok sebayanya karena teman sebaya korban bullying tidak mau, akhirnya mereka menjadi target bullying karena mereka berteman dengan korban.

Menurut  YKAI  (Yayasan  Kesejahteraan  Anak  Indonesia)   bahwa  tindakan  kekerasan  berdampak  sangat  serius terhadap  kehidupan  seseorang,  misalnya  korban  memiliki  konsep  diri  yang  negatif dan ketidakmampuan mempercayai dan mencintai orang lain, pasif dan menarik diri dari lingkungan, takut membina hubungan baru dengan orang lain.


Sesungguhnya bullying ini bisa dicegah, baik bagi pelaku maupun korban, yaitu dengan meningkatkan setidaknya perasaan empati dan kepedulian antar sesama. Agar tidak ada lagi kekerasan yang berlanjut baik di rumah, institusi pendidikan, pekerjaan dan tempat lainnya.


You may also like

Instagram