Nasib Pantai Putra Deli Kian Memburuk

                                         



Pantai Putra Deli yang berlokasikan di Desa Denai Kuala Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang, berjarak 55 km dari Medan dan 35 km dari Lubuk Pakam ini kian memburuk dikarenakan  pengikisan batuan oleh air, es, atau angin yang mengandung dan mengangkut hancuran bahan (abrasi) besar-besaran pada 2008 lalu. Abrasi terparah pada 2011 yang mencapai 2 meter.

Tingginya tingkat abrasi yang terjadi disebabkan banyak faktor, di antaranya perputaran alam, pengerukan kapal atau pengambilan pasir untuk pembangunan bandara di Kuala Namu pada awal bandara ini dibangun, lokasi yang tepat berada di belakang bandara Kuala Namu ini semakin menderita dengan belum adanya batu pemecah ombak serta tanggul penahan ombak.

Penanggulangan oleh masyarakat telah dilakukan. Swadaya kelompok telah membuat tanggul-tanggul sederhana guna mencegah abrasi lebih parah. Namun, tanggul yang hanya terbuat dari karung plastik berisi pasir tidak dapat bertahan lama. Sepanjang tahun 2010 sampai sekarang ini, ada sekitar 100 pohon cemara laut yang tumbang akibat abrasi.

Kondisi ini akan semakin memperparah abrasi karena akar pohon cemara yang merupakan urat bumi dan mampu menahan abrasi sudah berkurang. Penanggulangan telah dilakukan oleh pemerintah, salah satunya dengan penanaman pohon  cemara laut kembali. Tak hanya itu, pemerintahan mengajak siswa-siswi SMK Pertanian untuk turut melestarikan kembali pantai ini.

Pantai yang berpasir putih serta asri ini kini tak lagi nyaman dikunjungi banyak wisatawan, tak hanya karena abrasi, namun kenyamanan dari perawatan lokasipun buruk. Jelas saja, saat tim Cerita Medan mengunjungi lokasi ini, tak terlihat ramai orang, padahal saat itu adalah libur akhir pekan, pondok-pondok yang dibuat oleh pemerintah seakan merindukan penghuni. Bahkan lebih buruknya lagi adalah toilet yang tersedia seakan tak ada petugas yang membersihkan, bak mandi yang harusnya berisi air telah berganti dengan penuhan pasir.

Indahnya warna langit yang menaungi pantai ini bisa menjadi penghibur hati saat sudah miris melihat lokasi pantai yang tak lagi indah. “Dulu ngak separah ini, tapi sekarang kok udah makin buruk aja. Langitnya tetap bagus kok, bahkan makin indah. Bisa liat pesawat lewat lagi, soalnya keliatan dari sini.” Ungkap Aulia siswi SMA yang saat itu juga mengunjungi pantai.

Uniknya, saat ketika lokasi wisata baru ramai dikunjungi orang, tetap ada saja pengunjung pantai ini walau tak berjumlah banyak. Lokasi ini bisa dijadikan lokasi untuk berkumpul dengan kerabat dan keluarga sambil melakukan aktifitas seperti bakar-bakar ayam/ikan, beramin bola dan sebagainya yang biasa dilakukan orang-orang ketika mengunjungi pantai.

Sore hari adalah waktu yang tepat untuk mengunjungi pantai ini, panas yang tak menggigit dan air yang mulai membiru serta burung-burung bangau akan memanjakan mata anda ketika mengunjungi pantai ini.

Jangan bertahan hingga malam, karena akses jalan untuk keluar tak memiliki lampu jalan lagi, yang ada hanya padatan rumah warga yang bisa terlihat setelah jarak 10 km ditempuh dari pantai.
Awal masuk pantai anda hanya dipungut biaya Rp.10.000. Semoga dengan dana masuk yang diberikan wisatawan dapat membantu perbaikan dan pembenahan dari pemerintah terus-menerus hingga membuat pantai ini semakin nyaman lagi.

Semoga semakin baik pembenahan, semakin banyak pula pengunjung yang datang dan merayakan akhir pekan bersama, atau hanya sekedar berjalan-jalan di sore hari dengan rekan anda.


You may also like

Instagram