DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR SISWA

A.    Pengertian Kesulitan Belajar
Setiap Individu memang tidak ada yang sama. Perbedaan individual ini pulalah yang menyebabkan perbedaan tingkah laku belajar dikalangan anak didik. “dalam keadan dimana anak didik tidak dapat belajar sebagaimana mestinya” itulah yang disebut dengan “kesulitan belajar”.[1]
Di setiap dalam berbagai jenis dan tingkatan pasti memiliki anak didik yang berkesulitan belajar. Masalah yang satu ini tidak hanya dirasakan oleh sekolah modern di perkotaan. Tapi juga dimiliki oleh sekolah tradisional di pedesaan dengan dengan keminiman dan kesederhanaannya hanya yang membedakannya pada sifat, jenis dan factor penyebabnya. [2]
Kesulitan belajar yang dirasakan oleh anak didik bermacam-macam yang dapat dikelompokkan menjadi 4 macam, yaitu sebagai berikut :
1.      Dilihat dari jenis kesulitan belajar :
·         Ada yang berat
·         Ada yang sedang
2.      Dilihat dari mata pelajaran yang dipelajari :
·         Ada yang sebagian mata pelajaran
·         Ada yang sifatnya sementara
3.      Dilihat dari sifat kesulitannya
·         Ada yang sifatnya menetap
·         Ada yang sifatnya sementara
4.      Dilihat dari segi factor penyebabnya
·         Ada yang karena factor intelegensi
·         Ada yang karena factornon- intelegensi[3]
Bermacam-macam kesulitan belajar sebagaimana disebutkan diatasa selalu ditemukan di sekolah. Apalagi suatu sekolah dengan sarana dan prasarana yang kurang lengkap, dan dengan sarana prasana yang kurang lengkap, dan daya tenaga guru apa adanya.
Akhirnya dapat disimpulkan bahw kesulitan belajar adalah suatu kondisi dimana anak didik tidak dapat belajar secara wajar, disebabkan adanya ancaman hambatan ataupun gangguan dalam belajar.
B.     Beberapa penyebab kesulitan belajar
Factor penyebabnya dapat digolngkan dalam 2 golongan :
1.      Faktor intern
a.       Faktor fisiologi
·         Karena sakit, lemah fisik. Sehingga saraf sensorik dan mtoriknya lemah
·         Karena cacat tubuh
b.      Faktor psikologi
2.      Faktor ekstern
a.       Faktor non-sosial
b.      Faktor social[4]
Menurut Muhibbin Syah, factor anak didik meliputi gangguan atau psikofisik anak. Yakni :
1.      Yang bersifat kognitif (ranah cipta), antara lain seperti rendahnya kapasitas intelektual/intelegensi anak didik
2.      Yang bersifat afektik (ranah rasa), antara lain seperti labilnya emosi dan sikap
3.      Yang bersifat psikomotorik (ranah karsa), antara lain seperti terganggunya alat-alat indra penglihatan dan pendengaran (nata dan telinga)[5]
Sedangkan factor eksternn anak didik meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar yang tidak mendukung aktivitas belajar anak didik. Factor lingkungan ini meliputi :
1.      Lingkungan keluarga. Contohnya : ketidakharmonisan hubungan antara ayah dengan ibu, dan rendahnya kehidupan ekonomi keluarga
2.      Lingkungan perkampungan. Contohnya : wilayah perkampungan kumuh dan teman sepermainan
3.      Lingkungan sekolah. Contohnya : kondisi dan letak gedung sakolah yang buruk .
Jika dipandang dari aspek lain, factor penyebab kesulitan belajar. Yaitu :
1.      Faktor Anak Didik[6]
Untuk mendapatkan gambaran factor-faktor apa saja yang dapat menjadi penyebab kesulitan belajar anak didik. Maka akan dikemukakan seperti berikut ini :
a.       Intelegensi (IQ) yang kurang baik
b.      Bakat yang kurang dan tak sesuai dengan bahan pelajaran
c.       Faktor emosional yang kurang stabil
d.      Aktivitas belajar yang kurang.
e.       Latar belakang yang pahit
f.       Cita-cita yang tidak relevan
g.      Pengetahuan dan keterampilan dasar yang kurang

2.      Faktor sekolah
a.       Pribadi guru yang kurang stabil
b.      Guru yang tidak berkualitas
c.       Hubungan guru dengan anak didik yang kurang harmonis
d.      Guru-guru yang menuntut standar pe;ajaran diatas kemampuan anak
e.       Guru tidak memiliki kecakapan dalam usaha mendiagnosis kesulitan belajar anak didik
f.       Cara guru mengajar yang kurang baik
g.      Alat/media yang kurang memadai
h.      Perpustakaan yang kurang memadai
3.      Faktor keluarga
a.       Kurangnya kelengkapan alat-alat belajar bagi anak dirumah
b.      Kurangnya biaya pendidikan yang disediakan orang tua
c.       Anak tidak mempunyai ruang dan tempat belajar yang khusus dirumah
d.      Ekonomi keluarga yang terlalu lemah
e.       Kedudukan anak dalam keluarga yang menyedihkan[7]

C.    Usaha mengatasi kesulitan belajar
Dalam rangka mengatasi kesulitan belajar, harus dicari sumber penyebab utama dan sumber penyebab penyerta lainnya mutlak dilakukan secara akurat, afektif dan efisien. Secara garis besar dapat dilakukan melauli 6 tahap yaitu :[8]
1.      Pengumpulan data
Untuk menemukan sumber informasi penyebab kesulitan belajar diperluakn banyak informasi . usahanya seperti :
a.       Kunjungan rumah
b.      Case Study
c.       Daftar pribadi
d.      Meneliti pekerjaan anak
e.       Meneliti tugas kelompok
f.       Melaksanakan tes, baik tes IQ, maupun tes prestasi
Dalam pelaksanaannya, semua metode tidak mesti digunakan bersama, tergantung pada masalahanya, kompleks atau tidak. Semakin rumit masalahnya, maka semakin banyak kemungkinan metode yang dapat digunakan. Jika masalahnya sederhana mungkin dengan satu metode sudah cukup untuk menemukan factor apa kesulitan belajar anak.
2.      Pengolahan data
Data yang sudah terkumpul tidak aka nada artinya jika tidak diolah secara cermat. Langkah selanjutnya adalah :
a.       Identifikasi kasus
b.      Membandingkan antarkasus
c.       Membandingkan dengan hasil teks
d.      Menarik kesimpulan
3.      Diagnosis
Diagnosis adalah keputusan mengenai hasil dari pengolahan data. Diagnosi dapat berupa hal-hal sebagai berikut :
a.       Keputusan mengenai jenis kesulitan belajar anak didik yaitu berat dan ringannya tingkat kesulitan yang dirasakan anak didik.
b.      Keputusan mengenai factor yang iku menjadi sumber penyebab kesulitan belajar anak didik
c.       Keputusan mengenai factor utama yang menjadai sumber penyebab kesulitan belajar anak didik
Karena diagnosis adalah penentuan jenis penyakit dengan meneliti terhadap hal yang dipandang tidak beres, maka agar akurasi keputusan yang diambil tidak keliru tentu saja dibutuhkan kecermatan dalam meneliti.
4.      Prognosis
Keputusan yang diambil berdasarkan hasil diagnosis menjadi dasar pijakan dalam kegiatan prognosis. Dalam prognosis dilakukan kegiatan penyusunan program dan penetapan ramalan mengenai bantuan. Dasar penyusunan program bantuan diajukan dengan pertanyaan menggunkan rumus 5 W + 1H
5.      Treatment
Treatment adalah perlakuan. Perlakuan disini dimaksud adalah pemberian bantuan kepada anak didik yang mengalami kesulitan belajar sesuai program yang telah disusun pada tahap prognosis. Bentuknya seperti :
a.       Melalu bimbingan belajar individual
b.      Melalui bimbingan belajar kelompok
c.       Melalui remedial teaching
d.      Melalui bimbingan orangtua dirumag
Ketetepan treatment yang diberikan kepada anak didik yang menagalami kesulitan belajar sangat tergantung kepada ketelitian dalam pengumpulan data, pengolahan data, dan diagnosis.
6.      Evaluasi
Evaluasi disini dimaksud untuk mengetahui apakah treatment yang telah diberikan berhasil dengan baik. Artinya ada kemajuan, yaitu anak dapat dibantu keluar dari lingkaran masalah kesulitan belajar. Langkahnya :
a.       Re-cheking
b.      Re-diagnosis
c.       Re-prognosis
d.      Re-treatment
e.       Re-evaluasi[9]




[1].  Abu Ahmadi. Psikologi belajar . Rineka cipta : 2008 Jakarta (Hlm : 77)
[2]. Syaiful Bahri Djamarah. Psikologi belajar . Rineka cipta : 2000 Banjarmasin (Hlm : 233-234)
[3]. iIbid (Hlm  234-235)
[4]. Ibid (Hlm : 79-80)
[5]. Ibid (Hlm : 235)
[6]Ibid (Hlm : 237)
[7]. Ibid (Hlm :  238-241)
[8] . Ibid (Hlm : 250)
[9]. Ibid (Hlm :  255) 


You may also like

Instagram